Alhamdulillah, adalah kata yang pertama kali saya ucapkan setelah keluarnya pengumuman penerimaan calon mahasiswa universitas Al-Azhar Mesir, yang diselanggarakan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia pada bulan Juli 2019 yang menyatakan bahwa saya lulus seleksi. Setelah pengumuman tersebut, saya dan semua para Masisir menunggu tanggal keberangkatan yang akan diputuskan oleh Kemenag RI kemudian.

 

Beberapa bulan berselang, hari yang dinanti-nanti pun telah tiba, hari yang dari jauh-jauh hari telah dinanti, tepatnya tanggal 28 Desember 2019, yaitu hari pemberangkatan ke negeri Kinanah (Mesir) pun datang. Hari itu menjadi hari kebahagiaan semua para calon Masisir setelah beberapa bulan menunggu  kepastian keberangkatan. Tetapi, hari itu juga menjadi hari yang sangat berat, karena harus meninggalkan semua keluarga tercinta di rumah dan juga keluarga di Pondok pesantren Daarul Ma’arif Ciamis untuk selama lima tahun kedepan.  Tetapi hal itu tidak menghalangi niat saya untuk tetap menggapai mimpi dan cita-cita.

 

Ayah (Tiri) , ibu dan beberapa keluarga dekat pun  mengantarkan saya ke bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Ketika waktu take-off tiba, saya berpamitan kepada semua keluarga khusunya ibu saya yang semenjak meninggalnya ayah (kandung) mengurus saya dan memberikan kasih sayangnya  hingga sampai saat ini, air mata kesedihan pun tak terbendung mengiringi perpisahan saya dan keluarga. Pukul 00.05 WIB saya dan teman-teman take-off dari Jakarat menuju Abu Dhabi. Setibanya di Abu Dhabi saya merasa berada di alam mimpi, karena tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kami transit selama 4 jam lamanya dan melanjutkan perjalanan menuju Mesir, tepatnya pukul 09.00 waktu Abu Dhabi.

 

Hari Ahad tanggal 29 Januari 2019, tepatnya pukul 12.00 waktu Mesir. Saya dan rombongan tiba di negeri para anbiya, negeri para ulama, yaitu negeri Kinanah. Negeri yang menjadi impian sejak 2 tahun lalu. Saya tak menyangka, yang awalnya hanya melihat foto diatas print-an biasa dan bertulisan sholawat kepada Nabi diatasnya yang setiap kali melihat foto tersebut saya bacakan sholawat tersebut. Tapi, sekarang bisa langsung melihatnya denga mata kepala sendiri. Saya pun disambut oleh kakak kelas yang telah berada disana, para alumi MA eL-BAS sekaligus santri ponpes Daarul Ma’arif, yaitu Akhy Ujang, Ukhty Nadia, Ukhty Aghni, Ukhty Resi dan Ukhty Fakhira. Mereka menyambut degan hangat dan menyuguhkan makanan khas Mesir. Saya pun mengeluarkan makanan khas Indonesia yang dibekal dari rumah seperti Makroni, basreng dan cemilan lain karena mereka merasa sangat kangen dengan makanan khas Indonesia yang tidak ditemukan di Mesir.

 

Hari kedua, di pagi hari cuaca terasa begitu sangat dingin karena bertepatan dengan musim dingin, suhu begitu rendah tepatnya 11oc. Untung saja saya telah menyiapkan jaket tebal yang dibeli di Indonesia. Pagi itu juga, saya disuguhi sarapan khas Mesir, yaitu ‘Isy (semacam roti yang rasanya hambar). Makanan ini dinamakan ‘Isy karena menjadi makanan untuk menyambung hidup orang Mesir. Secara etimologi, diambil dari kata Bahasa Arab yaitu ‘Isy yang berarti hidup. Pepatah mengatakan “من لم يأ كل عيش فلا يعيش مصر” yang berarti “barang siapa yang tidak memakan “Isy, maka tidak akan hidup di Mesir. Ketika saya mencicipi ‘Isy tersebut yang dicampur dengan fuul (Kacang bubuk cair yang menjadi bumbunya), batotis (kentang goreng) dan to’miyah (sejenis gorengan khas mesir). Saya merasa mual dan hampir muntah-muntah karena bumbu fuul-nya yang sangat aneh rasanya  dan tidak terbiasa bagi lidah orang Indonesia.

 

Siang harinya, saya diajak berkeliling sekitar daerah Darosah (daerah di kota Kairo)  daerah tempat tinggal saya untuk pertama kali. Masjid Azhar, adalah tempat pertama kali yang saya kunjungi. Masjid yang selama ini banyak diberitakan dimedia-media, masjid yang menjadi ikon negeri Mesir. Masjid ini juga yang dulu hanya sebatas foto yang dipajang di lemari dan selalu dibacakan sholawat setiap kali memandang  foto tersebut, kini berada langsung dihadapan mata. Selanjutnya saya berziarah ke salah satu ulama yang terkenal yaitu Imam Dardir, seorang ulama yang cukup masyhur di kalangan para Masisir. Tentunya juga ziaroh ke makam cucu nabi kita Muhammad saw., yaitu Saidina Husain yang letaknya tidak berjauhan dengan Masjid Azhar.

Santri Daarul Ma’arif, Endang Kurniawan, menyempatkan diri mengabadikan hari pertama kedatangannya di pelataran Mesjid Azhar, Kairo Mesir. 

 

Hari selanjutnya,saya diajak ke pasar untuk membeli perlengkapan pribadi seperit lemari, dan lain sejenisnya di daerah Hay Saabi’ (daerah di kota Kairo) dengan mengendari kendaraan umum. Kejadian yang menarik ketika Akhy Ujang memberhentikan bis dengan menggunakan isyarat jari yaitu mengacungkan 2 jari yang mengisyartkan 7 (saabi’) dan berarti menuju daerah Saabi’. Setelah saya tanyakan maksud isyarat tersebut Akhy Ujang menjelaskan hal tersebut. Ada beberapa isyrat tangan yang menjadi kebiasaan untuk memberhentiakn bis, seperti mengacungkan 2 jari yang mengisyaratkan 7 (saabi’) menuju daerah  Hay Saabi’, mengacungkan 4 jari yang mengisyarakan 4 (rob’ah) menuju daerah Rob’ah, mengacungkan 1 jari mengisyaratkan 6 (saadis) menuju daerah Hay Saadis, dan 5 jari mengisyaratkan 10 (aasyir) menuju daerah Hay Aasyir . Hal menarik lainnya adalah pada cara membayar angkutan umum, tidak seperti halnya di Indonesia, dimana ongkos dibayar ketika mau turun dan dibayarkan langsung ke supirnya. Lain halnya di Mesir, kita harus membarnya ketika pertama naik dan diestapetkan ke penumpang yang berada di depan kita. Dan kata aamiyah yang pertam kali saya hafal adalah cara memberhentika bus, yaitu “ala gambi yaastoh” yang berarti berhenti kalau Bahasa Sunda nya “Kiri mang”.

 

Hari-hari selanjutnya saya mengikuti bimbingan belajar dalam rangka mempersiapkan ujian Tahdid Mustawa (penentuan kelas Bahasa) Daurul Lughoh,  dan mulai terbiasa dengan lingkungan Mesir. Bberapa makanan Mesir mulai saya biasakan untuk mengonsumsi nya seperti, To’miyah, Batotis Bil Baid, Fatiroh dan tetunya ‘Isy dengan bumbunya yaitu Fuul.

 

Seminggu kemudian setelah kedatangan saya di negeri Kinanah ini, saya merasa berada negeri sendiri. Karena tak jarang dan tak sedikit juga mahasiswa Indonesia yang saya temui. Melihat masyarakat Mesir yang begitu berbeda dengan masyarakat Indonesia tentunya kita harus menjaga adab dan etika kita sebagai seorang pendatang, dan tak jarang juga saya melihat perselisihan penduduk setempat . kebiasaan orang Mesir yaitu ketika mereka berbicara mereka manggunakan nada tinggi sehingga tampak seperti marah.  Begitulah singkat cerita perjalanan awal saya di negeri Kinanah ini.

WhatsApp Tanya via WhatsApp