Ciamis – Tidak terasa genap sudah perjalanan kelas 9 MTs dan 12 MA angkatan 2018/2019 sebagai siswa di MTs dan MA eL-BAS sekaligus santri Pondok Pesantren Daarul Ma’arif dengan selesainya Ujian Madrasah (UM) mulai tanggal 29 Maret s.d 6 April 2021, dimana di waktu yang sama pelaksanaan ujian untuk jenjang MTs dilaksanakan pula. Sebagaimana kita tahu, di tahun ke-2 pandemik covid 19 ini, UM merupakan satu-satunya ujian akhir bagi siswa sebelum mereka dinyatakan selesai menempuh pendidikan di jenjang madrasah. Ujian lainnya yang berskala nasional seperti UAMBN & AKM sebagai rangkaian asesmen nasional tidak mungkin terlaksana. Dan sebagai penutup rangkaian kegiatan ujian, siswa 12 MA telah selesai pula mengikuti kegiatan ujian TOEFL pada tanggal 7 April 2021, serta ujian pondok pesantren yang akan dilaksanakan mulai tanggal 8-15 April 2021.

Meskipun kegiatan UM di luar time-line kegiatan asesmen nasional, namun greget ujian ini tetap berasa. Hal ini tampak dari aktivitas panitia dalam mempersiapkan kegiatan ujian serta persiapan para siswa dalam menghadapinya. Dari sisi panitia, geliat pelaksanaan kegiatan ujian sudah mulai tampak di minggu ke-3 bulan april dengan dimulainya pelaksanaan kegiatan simulasi UMBK selama satu hari khususnya untuk jenjang MA yang menggunakan media komputer sebagai alat ujinya. Pelaksanaanya dilakukan di labolatorium komputer MA eL-BAS lantai dasar. “Meskipun POS UM mengindikasikan pelaksanaan ujian ini adalah otonomi madrasah, baik substansi atau pun teknis, namun kami membuat roadmap kegiatan ujian agar progres pelaksanaannya tampak jelas dan mudah untuk terukur”, Wakamad Kurikulum, Asep Apipudin, menuturkan.

Tepat pada hari Senin, 29 Maret 2021 secara serempak hari pertama kegiatan evaluasi dimulai tepat jam 7:30 tanpa didahului oleh kegiatan upacara pengibaran bendera merah putih sebagiamana biasanya di situasi normal. Kegiatan Ujian Madrasah dijadwalkan selesai dalam waktu 1 (satu) minggu, yakni hingga hari Selasa, 6 April  2021. Di hari pertama mengujikan dua mata pelajaran, yakni Qur’an Hadis dan Akidah Akhlak, dengan alokasi waktu masing-masing selama 2×45 menit atau setara dengan sembilan puluh menit dengan jeda waktu istirahat masing-masing mapel 30 menit. Rata-rata mapel yang diujikan dalam sehari adalah 2 mapel. Jika dilihat dari banyaknya mapel yang diujikan, khusus untuk jenjang MA baik jurusan Ilmu Keagamaan (IIK) dan jurusan Matematika & Ilmu Alam (MIA), sama-sama memiliki 10 jumlah mata pelajaran umum dan 4 mata pelajaran peminataan masing-masing jurusan. Dengan demikian jumlah mapel yang diujikan total adalah 14 mapel. Sama halnya dengan jenjang MTs, jumlah mapel yang diujikan adalah 14 mapel, namun dengan lama pelaksanaan ujian yang lebih cepat, yakni selama 5 (lima) hari. Dengan demikian jenjang MTs selesai lebih cepat pelaksanaan ujiannya.

Dari sisi kepanitiaan, jumlah pengawas yang terlibat dalam pelaksanaan UM kali ini secara berurut untuk jenjang MTs dan MA adalah 12 dan 16 orang pengawas yang merupakan dewan guru pengampu mapel yang diujikan pada masing-masing jenjang serta ditambah dari tenaga murokib/murokibah dikarenakan ada pembatasan mobilitas bagi guru yang berdomisili jauh di luar pondok. Peserta ujian siswa kelas 9 MTs tersebar masing-masing di 3 ruang dengan moda kertas dan pensil, dan satu ruang ujian MA di Labolatorium komputer dengan moda komputer. Adapun pengaturan sesi ujian bagi pelaksanaan UMBK jenjang MA, yakni 2 sesi setiap hari bagi masing-masing jurusan MIA & IIK, dengan jumlah 2 mapel yang diujikan setiap hari nya. Dengan demikian ada 2 pengawas yang berbeda setiap harinya. “Untuk memberi kesempatan yang sama mengenai waktu pelaksanaan ujian dan menyiasati kejenuhan, ada rotasi penempatan sesi di setiap hari ujian, santri jurusan MIA masuk sesi pagi setiap hari ganjil dan sebaliknya setiap hari genap santri jurusan IIK yang masuk pagi”, ungkap proktor UMBK, Toni Herdiana membuka pembicaraan.

“Dilihat dari okupansi ruang, dikarenakan sarana komputer yang ada di Labolatorium komputer hanya 25 unit saja, sedangkan jumlah siswa terdiri dari 56, dan perbandingan jumlah siswa kelas IIK lebih banyak dari MIA, maka jumlah siswa per sesinya dilakukan pencampuran agar tetap berimbang.” proktor madrasah menambahkan. Semoga saja apa yang telah para santri perjuangkan selama ini dalam menghadapi ujian, baik ujian madrasah atau ujian pondok, serta perjuangan mereka sebagai santri selama 3-6 tahun menempuh pendidikan dapat berbuah manis dengan berhasilnya para santri melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi pilihan mereka secara layak, semoga, aamiin…

WhatsApp Tanya via WhatsApp