Kualalumpur – Malaysia. Penulis Buku Membangun Madrasah Unggul Berdaya Saing yang juga pengasuh Pondok Pesantren Daarul Maarif Imbanagara Ciamis Dr (cand) H.M.Kusoy Fadiliyah, M.Si mendapat kesempatan menyampaikan paparan dihadapan Pengurus Nahdlatul Ulama Cabang Istimewa Malaysia (NUCIM) dalam sebuah seminar Internasional berthemakan Internasional Seminar on Islamic Current Issues in Education Jumat (29/03) di Gedung Nahdlatul Ulama Malysia lantai II Gombak Kualalumpur yang didampingi K.H.A.Hajar Sanusi Ketua MUI Kota Bandung, Geofany Tarega Motivator Nasional dan Penulis 34 Buku, dan Yaya Suhaya seorang Pengawas Pendidikan Agama berprestasi dan mantan Kepala SMA Almukhlisin Parung Bogor. Dalam paparannya sebagaimana ditulis dalam Buku Grand Desain Madrasah Unggul Berdaya Saing di hadapan masyarakat dan Pengurus Nahdlatul Ulama Malaysia. Menurut Kusoy, Indonesia dan Malaysia mempunyai banyak kesamaan untuk pengembangan pendidikan Islam dan tidak terlalu sulit bagi organisasi Nahdlatul Ulama di Malaysia untuk membangun sebuah model pendidikan yang terintegrasi sebagaimana keinginan organisasi ini membangun lembaga pendidikan di Malaysia. Buku yang mengangkat issu pendidikan islam bermutu ini sejalan dengan adanya perencanaan pembangunan Pondok Pesantren dan lembaga pendidikan formal berupa sekolah di Malaysia yang digagas oleh masyarakat Nahdliyyin Malaysia dan warga nahdliyyin Indonesia yang tinggal di Malaysia.

Selanjutnya, H.M.Kusoy menjelaskan sebagaimana dikutip dari bukunya, bahwa Pondok pesantren dan madrasah harus terintegrasi. Saat ini banyak madrasah yang kurang peserta didiknya begitu juga banyak pesantren yang sedikit santrinya, tetapi jika keduanya difungsikan maka akan terjadi saling mendukung dan bisa dikembangkan membuat program takhassus atau unggulan. Sebagaimana yang dikembangkan di pesantren Daarul Maarif Imbanagara Ciamis yang mengintegrasikan kedua lembaga dalam satu manajemen. Program unggul yang sudah berjalan di Pesantren daarul maarif dengan membuka takhassus kitab kuning, bahasa Arab, Bahasa Inggris, tahfidzul Quran dan MIPA. Kata penulis yang juga Auditor Kementerian Agama.Lembaga pesantren tidak bisa menolak calon santri dari kalangan manapun stratanya baik dari golongan menengah ke atas atau masyarakat menengah ke bawah. Ironis sekali jika pesantren menolak masyarakat yang mau mempercayakan pesantren sebagai tempat menuntut ilmu. Kata Kusoya. Dengan menerima semua kalangan masyarakat, berarti pesantren sudah membuat pendidikan model alternative. Di pesantren diajarkan tidak hanya ilmu agama atau membahas kitab saja tetapi dari pesantren juga melahirkan hafidz dan hafidzah, santri berkemampuan bahasa Inggris dan bahasa Arab, serta santri menguasai sain dan teknologi, katanya.

Grand desain madrasah unggul sebagaimana yang dipaparkan dalam Buku yang disusun setebal 146 halaman ini sebagai hasil dari refleksi penulis dari penelitian pada sekolah unggul Internasional Islamic School Malaysia di Gombak Selangor, School Tahfidul Quran and Arabic Malaysia di Kualalumpur, dan beberapa Madrasah unggul di Indonesia seperti MAN Insan Cendikia, Madrasah Aliyah Amanatul Ummah Surabaya dan beberapa Madrasah lainnya. Penulis juga pernah menjadi guru dan Kepala Madrasah lebih dari 10 sepuluh tahun, ratusan madrasah sudah dikunjunginya serta kini mengelola pendidikan dari mulai pondok pesantren, raudlatul atfal, manajemen madrasah Ibtidaiyah, tsanawiyah dan tengah mengagas berdirinya madrasah aliyah tahun pelajaran 2013/2014. Buku tersebut juga pernah diperkenalkan dan dibahas serta dibedah dalam beberapa kesempatan seperti dihadapan ratusan kepala madrasah dan guru di Kabupaten Ciamis bersama Direktur Madrasah Prod. Dr. H. Dedi Djubaedi, MA. dekanat dan para dosen IAIN Padang, juga mendapat testimoni para Guru Besar Pendidikan antara lain dari Prof. Dr. H. Muhamadiyah Amin, MA Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo, Prof. Dr. H. Suherli Kusmana, M.Pd Rektor Universitas Galuh Ciamis, Prof. Dr. Ajat Sudrajat, M.Ag Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. H. Mahmud, MA Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Djamali Sahrodi, M.Ag Direktur Pasca Sarjana IAIN Syech Nurjati Cirebon, dan Prof. Dr. Dudung Abdurahman, M.Hum Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta serta kalangan akademisi dan praktisi lainnya. Buku dengan kata pengantar dari Dr.H.M .Jassin Inspektur Jenderal kemenag RI, dengan prolog Prof.Dr. H. Dedi Djubaedi, MA Direktur Pendidikan Madrasah Kemenag dan epilog Dr. H. M. Suparta, MA Dosen UIN Syahida Jakarta, sangat mudah untuk dilaksanakan di Malaysia, alasaannya karena warga Nahdliyyin Malaysia atau warga Indonesia di Malaysia jumlahnya sangat signifikan sehingga mudah terwujudnya sebuah lembaga yang terintegratif antara pondok pesantren dan sekolah, apalagi lokasi tanahnya sudah ada yang mau wakaf. tidak perlu banyak orang untuk membangun sebuah madrasah yang unggul, tapi diperlukan orang yang penuh komitmen dan kompeten dalam dunia pendidikan Islam apalagi yang hadir dalam pertemuan sangat antsuias untuk berdirinya sebuah lembaga pendidikan Kata HM. Kusoy yang menyatakan siap menjadi konsultannya. Tim reportase Humas Kanwil.

 

Berita telah dipublikasikan tgl. 5 April 2013 pada link: https://jabar2.kemenag.go.id/berita/123791/buku-grand-desain-madrasah-unggul-pesantren-daarul-ma-arif-ciamis-diperkenalkan-di-malaysia

WhatsApp Tanya via WhatsApp