Ciamis – “Berkarya itu tiada batasnya, siapapun bisa membuat sebuah karya” Ucap penulis Novel Cita & Cinta, Chandra Nurpadillah, santriwan yang masih duduk di kela XI Madrasah Aliyah ini. Ia mengaku bahwa menulis novel sebagai dediakasinya kepada pondok yang tahun ini genap bersusia 10 tahun. Menulis bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi karya setebal 340 halaman ini memakan waktu 3 bulan untuk bisa diselessaikan.

Menurut informasi yang diperoleh, awalnya, sang penulis sudah merencanakan ini sejak tahun 2019 lalu. Sebagai bukti keseriusanya, ia memutuskan menggunakan waktu liburanya untuk belajar menulis bersama Dr. Geovani Van Rega, seorang tokoh literasi nasional yang tinggal di Bandung. Kurang lebih 2 minggu penulis mendalami ilmu bersama Ayah Geo dan santri lainya di sebuah pesantren yatim Dhuafa Al kayaf, sang penulis mengambil banyak pelajaran dan hikmah agar bisa menjadi penulis yang baik dan hebat.

Bulan Februari 2020, ia memulai untuk menulis sebuah novel. Namun karena padatnya jadwal di pesantren membuatnya banyak terganggu dan tidak bisa konsiten. Tapi, di minggu ke dua bulan Maret, tepatnya tanggal 16 tanpa diduga seluruh santri dipulangkan karena alasan force majoure sebagai tindak pencegahan penyebaran Virus Covid 19 di dunia pendidikan di Indonesia. Tanpa pikir panjang, karena memiliki banyak waktu luang di rumah akhirnya penulis melanjutkan untuk menyelesaikan tulisanya itu. Setiap malam ia berhadapan dengan laptop dan menggerakan jari-jarinya untuk menulis. Akhirnya di bulan Juli 2020 tulisanya dapat terselesaikan. Selanjutnya ia menyerahkan tulisanya kepada editor untuk direvisi dan diedit. Awalnya tulisanya itu berjumlah 370 halaman, tapi editor menghilangkan bagian-bagian yang tidak pentingnya sampai menjadi 340 halaman.

Selanjutnya naskah diserahkan ke penerbit untuk dipublikasikan di salah satu penerbit di daerah Jember Jawa Timur. Prosenya hanya 7 hari untuk bisa diterbitkan. Rencananya buku ini akan launching tepat di Acara Milad, namun rencana itu kandas karena kekeliruan panitia, dan waktu yang tidak memungkinkan. Karya ini mendapat banyak banyak perhatian, termasuk dari pimpinan pondok peantren sendiri. Abi kusoy, memamerkan karya ini dihadapan Wakil Menteri Agama ketika di malam puncak acara Milad.

“Tampak dari isinya penulis merangkai kata demi kata dengan indah. Walaupun penulis masih muda dan nyantri, namun penulis mampu membuat buku ini tidak monoton, bosan dan jenuh. Ada banyak inspirasi yang dapat menggugah jiwa agar menjadi pribadi yang lebih baik. Melalui tokoh bernama Nafisah, dalam buku ini kita akan banyak belajar hal yang sering kita lupakan untuk memperlajarinya” ungkap salah seorang santriwati yang telah membaca karya teman sepondoknya itu.

Ada banyak testimoni lainya dari para tokoh dan penulis di Indonesia. Diantaranya Dr. H Tatang Ibrahim Dosen UIN SGD Bandung, Mia Chuz Novelis asal Bekasi yang karyanya sudah difilmkan, Hangka penulis muda peraih penghargaan Buku Fiksi terbaik IBF JCC Awards 2020 serta masih banyak lainya.

Bedah Buku Novel “Cita & Cinta” & Workhsop Kepenulisan ke-2 di Mesjid Asrama Putri, Area Komplek Pendidikan MTs & MA eL-BAS.

Akhirnya novel ini bisa dikenalkan kepada para santriwan dan santriwati melalui kegiatan bedah buku. Acara digelar 2 kali, pertama di komplek putra, kedua di komplek putri. Acara bertajuk “Bedah Buku Novel Cita & Cinta dan Workshop Kepenulisan” ini berlangsung dengan lancar dan khidmat. Antusias para santriwan dan santriwati sendiri sangat tinggi. Mereka mengikuti acara sampai selesai. Di sela acara, penulis berbagi tips kepenulisan dan pengalaman panjangnya menulis novel ini. Di penguhung acara, ia juga memberikan  novelnya kepada 1 orang santriwan dan 1 orang santriwati bagi yang bisa menjawab pertanyaanya. Rafli dari kelas 9 dan Nova dari kelas 12 berhasil menjawab pertanyaanya dan berhak mendapatkan hadiah masing-masing 1 buah novel dari penulisnya langsung.

Penulis, Chandra Nurpadillah berdiri di tengah, sesaat setelah membagikan novel secara geratis berfoto bersama dengan panitia pada kegiatan Workshop dan Bedah Buku ke-1 di Mesjid Pondok Asrama Putra.

Novel ini ia dedikasikan langsung untuk pondok tercinta. Ia sendiri menyelipkan prolog dari pimpinan di halaman depan karyanya tersebut. Dimana saat tulisan ini dimuat, novel tersebut sedang dalam publikasi dan pemasaran. Semoga saja, sebagaimana harapan sang penulis, karyanya ini bisa menjadi motivasi tersendiri bagi teman-teman yang lain untuk senantiasa berkarya, berimprovisasi serta berinovasi. Madrasah lebih baik, semoga….

WhatsApp Tanya via WhatsApp